Thursday, March 8, 2012

menulis sesuatu yang berguna -> ujian sekolah

kalo biasa nya sih, aku pengen nulis curhat modif... sesuatu yang aku lakukan untuk diriku sendiri, demi kewarasanku, sebuah jurnal untuk menandai checkpoint dan moments, sebuah record untuk dijadikan elemen dalam merevisi kesalahan hidup... ya mungkin ini salah satunya, hehehe,.. tapi kupikir2 tidak seegois yang kemaren2...

awalnya tentu adalah rasa penasaran... nostalgia musim ujian sekolah di bulan2 ini yang memicunya..

ketika nongkrong sore2,.. kebarengan ama anak2 SMA yang seru banget ngomongin ujian... lucu ya :) cute..

langsung deh,tiba2 teringat mata pelajaran nasional yang sangat sulit, yang mana, mulai dari SD sampe SMA, tidak pernah aku dapatkan nilai yang memuaskan. bahkan untuk dibilang standar saja itu aku tidak mampu mencapainya...

yup.. PMP-pendidikan Moral Pancasila , PPkN,... rata2 nilaiku adalah 5 dari 10 points... (terbersit rasa bangga dari jiwa badung, heheheh... no regret! wakakakak...)

yang bikin penasaran itu, kenapa bisa dapet nilai segitu rendahnya... apakah aku kurang baik orang nya?

mungkin saja... tetapi pelajaran moral harusnya memang benar2 murni berlandaskan pola pemikiran dan logika bebas dari seorang pelajar... entah itu moral agama atau moral etika bermasyarakat....

yang aku dapatkan ketika waktu ujian dulu, adalah soal multiple choice yang mempunyai pengantar soal penuh dengan tantangan logika, tetapi disertai jawaban fixed rules...

 bagaimana bisa aku memberikan jawaban yang benar2 sesuai dengan pola pemikiran dan logika bebas dari kepalaku yang mana aku harus menulisnya sendiri dengan tulisan tanganku?  jawaban tertulis itu lah yang harus dimengerti makna nya oleh sang pengkoreksi jawaban ujian. dimana jika seorang guru memang benar2 menguasai bidangnya, tentu tidak sulit untuk memberikan skor pada tiap jawaban.

ternyata, dengan pengantar soal dan variasi jawaban nya,multiple choice system untuk ujian itu mencegah dan mengkotakkan kita untuk berpikir lebih jauh lagi.
dengan berbekal kunci jawaban dari kurikulum sekolah, setiap mata pelajaran bisa diwakilkan ke guru2 lain, tanpa harus ada pembobotan sampai level standar...
ini adalah robot,... ini pemrograman dan doktrinasi cara kerja yang melecehkan ide2 segar yang muncul setiap saat dari pelajar2 yang lagi benar2 penasaran dengan rasa ingin tahu yang sangat tinggi...

aku masi ingat dulu waktu klas 5 SD,.. pernah aku pulang kerumah pada jam 10 pagi(jam sekolah) untuk mengambil buku RPAL kemudian balik lagi kesekolah, hanya untuk membuktikan beda posisi titik api(fokus) antara CERMIN CEKUNG dengan LENSA(!) bi-KONVEKS untuk aku tunjukkan ke guru........

lha pancen megelno...mosok praktek titik api LENSA bi-KONVEKS menggunakan SENDOK MAKAN?(!) ..itu kan CERMIN, kapan ketemu neeeee , titik api neeee... wuh...

kalo ku inget lagi, guru nya emang guru PMP n OlahRaga, ditambah lagi ngajar IPA.. puyeng2 wes
(maklum, dulu sdku tidak sebagus SD2 mentereng dengan segudang reputasi dan prestasi membanggakan..)

astaghfirullah,....gosipnya sih,..guru itu udah meninggal krn kecelakaan, .. semoga tenang berada disisi ALLAH SWT

bagaimanapun juga, TERIMAKASIH PAK GURU SDku, anda adalah termasuk orang2 pertama dalam debat ilmu ilmiah saya.. anda lah yang telah meng-IGNITE saya untuk belajar lebih banyak lagi..

(maap saya lupa nama anda pak.. takut salah sebut.. lha gosip e wes meninggal lheee.. lak gak penak tah)



---huahhh--

yang ingin ditulis sbenarnya hanyalah sebuah bentuk keprihatinan,... betapa menggelikannya ketika pelajar jaman sekarang dibebani dengan begitu banyak tanggungan kurikulum yang harus diselesaikan, sedangkan guru nya semakin ignorant dengan dipermudahnya cara kerja mereka melalui sistem2 koreksi jawaban... gaji nya naek, tapi ketika dihadapkan dengan kemajuan teknologi dan diharapkan untuk mengejar ketertinggalan... KOK MALAH DEMO..!..



contoh saja..

program "SAGUSALA-satu guru satu laptop" itu bukan berarti "SAGUBELA-satu guru beli laptop"

harusnya, "guru" lebih bijak menyikapi program tersebut, bukan ikut2an demo dan menjadi liar seperti kebebasan pers sekarang ini...

seharusnya kita sudah dewasa by now..

ada yang salah dengan sistem pendidikan kita? tidak.. hanya saja, mulailah peduli dengan generasi penerus kita,..
ojok bingung susu ne ae.. mulailah belajar untuk bisa menjawab pertanyaan2 lucu dari anak2 kita dan keponakan2 kita yang masih balita...

karena seiring mereka beranjak dewasa, kita lah yang bertanggung jawab atas setiap lekuk neuron diotaknya..

No comments:

Post a Comment